Bongso Paku Rifa'iyah

KH. AHMAD RIFA'I KENDAL
TANBIHUN.ID- Kita berkumpul disini dalam rangka memperingati kelahiran guru kita Syaikhina KH. Ahmad Rifa’i yang jatuh pada 9 Muharram 1200 H/ 1786 M. Apa pentingnya peringatan ini? Sangat banyak, diantaranya kita semua bersyukur diciptakan dalam takdir menjadi anak turun murid beliau. Katakanlah kita ditakdirkan Allah lahir di Israel, atau di Hindia, maka akan lain ceritanya. Toh kita semua tidak bisa usul kepada Allah untuk memilih dimana kita dilahirkan, dan oleh ibu siapa, bapaknya siapa. Semua terserah-serah Allah. 
Kita dilahirkan menjadi anak-turun murid Mbah Rifa’i pasti Allah punya maksud. Apa gerangan? Menurut saya, maksudnya pasti baik. Pertama kita disuruh menjadi ‘paku’. Kok bisa! Kalau kita semua memandang bangunan bangsa-negara Indonesia ini sebagai rumah, kira-kira sedulur ‘bongso rifa’iyah’ ini sebagai apa? Saya berpendapat bahwa ‘bongso rifa’iyah’ sebagai pakunya. Kenapa paku? Karena karakter kerifaiyahan dari dulu itu laksana paku. 
Pertama paku mempunyai sifat tidak dilihat. Setiap orang yang meninjau bangunan rumah, selalu yang diperhatikan bukan paku. Ia memperhatikan interior rumah, etalase, kamar, dapur, halaman, taman dan segala ornamennya, tetapi tak pernah mengingat bahwa didalam semua itu pasti diikat oleh sekian ratus paku. 
Dari generasi ke generasi ‘bongso Rifa’iyah’ saya menyaksikan ada kegelisahan sebagian kader tentang ketidaktampakan ‘bongso rifa’iyah’. Entah tidak tampak di liputan-liputan media, maupun dalam isu-isu nasional, daerah. Sehingga ada usaha-usaha agar ‘bongso Rifa’iyah’ tampak. Dengan mengadakan kegiatan-kegiatan yang sifatnya tampak dipermukaan. Itu sah-sah saja, tapi bagi saya karena karakter bongso Rifa’iyah ini sebagai paku, maka ketika paku njumbol pasti ada yang memalunya. Diakui atau tidak. 
Tapi ingat, bahwa tanpa paku, sebuah bangunan rumah tidak akan berdiri. Mungkin ini pendapat yang berlebihan kalau mengatakan bahwa tak mungkin bangunan ‘rumah indonesia’ berdiri tanpa paku Rifa’iyah. Tapi pendapat itu juga menyimpan sekian persen kebenaran. Ada sejarawan Sartono Kartodirjo mengatakan bahwa dulu ada sekian ratus gerakan protes perlawanan terhadap pemerintah hindia belanda, tapi yang hingga sekarang masih eksis bertahan hanya Rifa’iyah. Artinya bongso Rifa’iyah tidak laksana lebah ketika ngentup kemudian mati berkalang tanah, Rifa’iyah mempunyai daya tahan yang orang lain tidak punya, bahkah ketika penjajah VOC dan pemerintah hindia belanda hengkang, Rifa’iyah masih saja tenguk-tenguk entuk getuk, kloyong-kloyong entuk gong.
Apa rumusnya? Resepnya? Kok sedemikian kukuh?
Kalau saya berpendapat rumusnya adalah ilmu paku. Paku kecenderungannya adalah semakin dipalu semakin kuat. Ada yang bisa menghitung tidak seberapa kualitas dan kuantitas ‘bongso Rifa’iyah’ dipalu? Bongso Rifa’iyah mengalami dipalu dengan pengasingan gurunya ke Ambon Maluku sampai ke kampung Jawa Tondano Minahasa; Guru bongso Rifa’iyah dipalu berkali-kali lewat usaha peracunan makanan yang disediakan di atas kapal dalam perjalanan pengasingan; Bongso Rifa’iyah dipalu dengan selalu diawasi aktifitas-aktifitas kegamaannya, sehingga dulu ketika ngaji harus bersebelahan dengan kandang kambing, agar kalau ada razia, bisa menyelinapkan kitabnya ke tumpukan rumput makanan kambing. 
Paku Rifa’iyah dipalu dengan perampasan kitab-kitab; dipalu dengan pemenjaraan guru dan muridnya; dipalu dengan pelarangan pendirian shalat jum’at; dipalu dengan SK 12 Kajati Jawa Tengah tentang pelarangan ajaran-ajarannya. Paku Rifa’iyah bertahun-tahun lamanya dipalu dengan “mbudiah matine dadi celeng”. Paku Rifa’iyah dipalu sepanjang sejarah dengan kebohongan sejarah melalui serat cebolek yang mengatakan bahwa Haji Ripangi adalah angkara murka dan delap, (tamak) candala (berperangai buruk), deksura (tak tahu sopan santun, kasar), diriya (egois), takabur dan kibir (sombong, congkak) saen (tak tahu malu) nyrengungus (usil pada perkara-perkara remeh tetapi melupakan yang inti). Dan masih banyak lagi kata-kata kasar yang memalu ‘paku Guru Kita’;  
Paku Bongso RIfa’iyah juga dipalu dengan tenung, santet, modong hingga tahun-tahun ini.
Kemudian sifat paku lainnya adalah merekatkan sebuah bangunan agar tidak roboh.
Kita tahu bahwa semua umat nabi-nabi jaman dahulu kala diadzab karena hancurnya sebuah keluarga. Umatnya Nabi luth punya tradisi sodomi, liwath, sehingga diazab. Kalau mayoritas manusia sudah menyukai sesama jenis itu sudah pasti bahwa sudah tidak berlaku lagi keluarga. Karena keluarga minimal terdiri dari suami, istri, dan anak. Umatnya nabi Nuh diazab dengan banjir bandang juga karena keluarga sudah hancur. Bagaimana tidak hancur kalau istri dan anaknya mendurhakai suami dan Bapaknya selaku kepala keluarga. Kalau keluarga Nabi Nuh saja bagitu, apalagi keluarga umatnya.
Kita umpamakan bangunan itu bangsa dan Negara, pakunya adalah keluarga. Maka yang mendukung berdirinya sebuah bangunan adalah keluarga. Sebagaimana umat-umat dahulu tadi, mereka dihancurkan dengan azab Allah karena mereka sudah melepas ‘paku-paku keluarga’.
Saya melihat secara makro bahwa bongso Rifa’iyah inilah yang mempunyai ketelitian dalam membangun dan ngemong keluarga. Tunjukkan di tradisi mana, orang yang mau akad harus mempersiapkan ilmunya lebih dulu dengan cara sorogan kitab (tabyinal islah) dengan salah seorang kiai atau ustadz. Kita semua melihat dalam tradisi bongso rifa’iyah sangat menjaga berlangsungnya proses sakral akad nikah hingga upaca-upacaranya. Karena itu semua dianggap sebagai langkah pertama sebuah bangunan keluarga didirikan. Karena awal menentukan kesudahannya. Karena karakter paku inilah maka ketika ada kamera yang merekam prosesi akad dianggap sebagai njumbolnya paku, maka selalu saja Sang Kiai sigap memalunya dengan memberi peringatan. 
Diantara proses among keluarga lainnya adalah dengan membina keluarga agar selalu ngaji. Dengan selalu ngaji manusia bisa aji dan ngajeni. Dulu pada generasi saya ngaji itu tiap habis subuh dan maghrib. Untuk ibu-ibu tiap pagi sekitar jam enam, dan selepas maghrib masih ada juga pengajian lagi. Sehingga dengan ikhtiar ngaji ini orang akan selalu eling tentang:
Mburu dunyo sekedar hajat kanggo tulung thoat
Ajo moto melek ati wutho
Solah tingkah dlohir batin saking Allah panguasan.
Gegeyongan ing Allah gunge rahmat
Dan masih banyak lagi kata-kata untuk kunci ilmu kehidupan sehingga selamet dunyo akherat lan angsal ridlone Allah.
Kenyataannya memang etos bongso rifaiyah adalah etos taqwa kepada Allah dan Rasulnya. Sehingga sangat jarang terjadi perceraian diantara keluarga-keluarga RIfa’iyah. Dengan tuwuhnya keluarga Rifa’iyah, khusnudzan kami barangkali hal itu yang menjadi paku yang merekatkan bangunan bangsa-negara Indonesia agar tidak roboh terkena azab.
Wallahu ‘alaam
Paesan, 28 Sept 2017
AHSA

Belum ada Komentar untuk "Bongso Paku Rifa'iyah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel