Kitab Tarjamah Jawa Arab Pegon Dan Sumber Ilmu Modern Bag.2 (Tamat)
TANBIHUN.ID- Bukan hanya Abu Ja'far al Mansur saja, Khalifah beriutnya juga mengikuti jejaknya. Khalifah al Makmun ibn Harun al Rasyid mendirikan "Darul Hikmah", sebuah Akademi Ilmu Pengetahuan. Sudah pasti inilah jenis itu yang pertama di dunia. Dilengkapai perpustakaan. Dilengkapi badan penterjamah. Dilengkapi Observatorium bintang. Dan sebuah Universitas pimpinan Muhammad Ibn Sallam. Anggota akademi berhamburan kemana-mana, membawa pulang ke Baghdad tumpukan buu-buku untuk diteliti dan di terjamahkan ke dalam bahasa Negerinya (Arab). Mereka kembali kerumah bagaikan lebah yang sarat dengan madu, dihisap oleh murid-murid yag bersemangat dan membentuk iklim kerja keras yang luar biasa.
Memang benar Hulagu Khan 1258 M menerobos masuk Mesopotamia, dan dari atas kudanya memporak-porandakan Baghdad. Memang benar tamatlah dinasti Abbasiyah. Apa betul kegelimangan ilmu juga ikut musnah? TIDAK! Gudang buku yang begitu banyak memang diboyong habis. Tapi tidak dibuang ke comberan. Buku-buku itu dibawa ke Samarkand. Kota Rusia ini mengambil alih peranan Bghdad, bahkan ditambah dengan teropong bintang, dan Hulagu Khan memeluk Agama Islam. Dan pada saat yang nyaris berbarengan, sang saudara Kubilai Khan memeluk agama Budha, memindahkan ibu kota kerajaannya ke Cathay, mengatur administrasi Tiongkok dengan bersih, menjadi Kepala Negara yang tidak bisa terungguli saat itu di dunia.
Restorasi Meiji Jepang
Hal serupa terjadi di Jepang 800 tahun sesudah itu. Isolasi dibawah kungkungan rezim feodalisme yang beku telah membiarkan negeri itu terbelakang dalam hampir semua aspek: ilmu, ekonomi, dan kekuatan militer. Ketertutupan mengakibatkan jepang menjadi satu masyarakat pikun berhadapan dengan negeri-negeri barat yang maju. Atas dorongan kelompok-kelompok pembaharu dari kelas menengah yang umumnya berpusat di Satsuma dan Chosu, fajar baru mulai menyingsing. Kecongkakan menyebut orang barat itu "barbar" dianggap keliru. Pengetahuan barat itu bukannya mesti ditolak, melainkan diambi. Jaman keterbukaan pun mulai.
Orang mengenalnya dengan sebutan "Restorasi Meiji", Masa pemerintahan dibawah kaisar Meiji, 1869-1912. Apa sesungguhnya yang sudah terjadi? Pengiriman mahasiswa-mahasiswa Jepang secara besar-besaran kedunia Barat. Ambil ilmu apa saja, dan bawa pulang ke Jepang. Terjamahkan buku apa saja Ke dalam Bahasa Jepang.
Lagi-lagi penterjamahan merupakan salah satu kunci penting bagi kemajuan peradaban. Apa yang dilakukan Kaisar Meiji persis yang dilakukan oleh Khalifah Abu Ja'far al Mansur atau Khalifah Ma'mun ibn Harun al Rasyid 800 tahun lebih dahulu.
Masa Depan Kitab Tarajuah
Syaikh Haji Ahmad Rifa'i kembali dari menuntut ilmu di negeri Makkah dan Mesir sekitar tahun 1830 M. Langkah pertama yang diambil beliau adalah dengan mentarjamahkan kitab-kitab bahasa Arab kedalam bahasa Masyarakatnya yaitu bahasa Jawa. Syaikh Haji Ahmad Rifa'i sadar cara cepat memahami hukum-hukum Islam adalah dengan penjelasan memakai bahasa Anak Negeri. Hal ini memancing reaksi keras dari Ulama-ulama lainnya, mereka bersikukuh bahwa tidak ada acara mempelajari Islam kecuali langsung dengan mengambil dari sumbernya yaitu kitab kuning berbahasa Arab. Padahal untuk benar-benar mahir membaca kitab kuning berapa tahun waktu dihabiskan untuk sekedar memahami ilmu-ilmu alatnya, sedangkan ilmu-ilmu yang harus segera dipahami sering masuknya usia mukallaf.
Masa Awal Generasi Kalisalak
Dimasa awal murid-murid Syaikh Haji Ahmad Rifa'i eranya Kyai Maufuro, Mbah Kyai Abdul Qohar dll sampai era murid generasi kedua semisal Mbah Kyai Bajuri Kendal, Mbah KH. Ahmad Dahlan Talun Pati mereka hanya fokus menjadikan kitab-kitab Tarjamah sebagai sumber kajian utama.Namun generasi sekarag diera Millenium 21 sepertinya sudah bergeser.
Pondok-pondok pesantren dieara pertama dan kedua masih murni kitab-kitab tarjamah karya Syaikh Haji Ahmad Rifa'i menjadi sumber kajian dan rujukan utama. Namun lagi-lagi hal ini sudah mula bergeser. Bahkan diera reformasi ini Pesantren-pesantren Rifa'iyah mengalami pergerakan baru yakni munculnya sekolah-sekolah formal. Hal ini memang bukan suatu keburukan, namun jika ini akan menjadi tonggak berkurangnya gairah mempelajari, memahami dan menjadikan kitab tarjamah Syaikh Haji Ahmad Rifa'i sebagai yang utama, maka bukanlah isapan jempol jika ajaran Syaikh Haji Ahmad Rifa'i akan tergerus bahkan tinggal tulisan, sebab ajaran akan hilang bersama hilangnya minat pengikutnya terhadap sumber ajarannya yakni kitab tarjamah itu sendiri.
Sanad Guru Tarajumah
Penulis pernah bertanya kepada seorang Kyai "Apa ada pengaruhnya mondok di pesantren dan ngaji langsung dengan Kyai yang punya jalur sanad sampai kepada Syaikh Haji Ahmad Rifa'i dan antara mondok dipesantren yang fokus ngaji kitab kuning?" singkatnya ada 2 orang 'alim.
- Dia hanya 'aliim kitab Tarajumah dan punya sanad sampai Syaikh Haji Ahmad Rifa'i
- Dia aliim Kitab Arab tidak punya guru yang sanadnya sampai kepada Syaikh Haji Ahmad Rifa'i
Jelas ada pengaruhnya kang, masih ingat istilah "LAULAL ISNAD LAQOOLA MAA SYA'A?" kalaulah tidak ada sanad guru maka orang akan berucap sesuai kemauannya (yang ia pahami). Misalnya dalam kitab tarajumah menemukan kata "ditelat" atau "pengusen" maka yang punya sanad akan berkata "dari guru saya , guru saya dari gurunya .....dst.......". yang tidak punya sanad ia akan menafsiri sesuai yang ia pahami.
Fakta dalam kitab-kitab tarajumah banyak sekali kalimat-kalimat yang oleh para guru-guru dijelaskan memiliki beberapa makna, dan tiap makna mempunyai tujuan yang berbeda-beda. Belum lagi jika menemukan teks yang berbeda dari kitab arab rujukannya, apalagi teks tersebut adalah Al Qur'an. Bagaimana akan menjelaskannya tanpa ia mendapat penjelasan dari guru-gurunya yang mendapatkan penjelasannya dari Syaikh Haji Ahmad Rifa'i.
Melihat fenomena pondok-pondok sekarang sepertinya belum terlambat untuk kita kembali menambahi semngat dan percaya diri dengan mengkaji dan mengaji kembali kitab-kitab Tarajuah. (zid/tammat)

Belum ada Komentar untuk "Kitab Tarjamah Jawa Arab Pegon Dan Sumber Ilmu Modern Bag.2 (Tamat)"
Posting Komentar