Nuansa Antara Anak Preman Dan Santri

TANBIHUN.ID - Disuatu majlis seorang anggota pengajian bertanya pada majlis "Kenapa anak-anak si Panut yang sehari-hari mabuk tapi hampir semua anak-anaknya nurut, sekolahnya rajin, pinter-pinter pula. Sedangkan anak-anak Kang Kibin yang sehari-hari rajin jama'ah suka sedekah, tapi anak-anaknya bandel. disekolahkan jarang masuk, dimaukkan pesantren sering pulang. Adakah yang bisa menjelaskan fenomena apa ini?" Tanya Mas Jamal dengan mimik serius.

Semua hadhirin terdiam mungkin sedang mereplay kehidupan dua orang yang disebutkan penanya. Tiba-tiba Kang Solihin menjawab, "Itu sudah taqdir Alloh mas".

Mas Jamal memandang kewajah-wajah orang-orang menyapu pandangan hendak mencari jawaban yang lain karena ia merasa belum menerima jawaban singkat Kang Solihin.

Kang Yasir yang dari tadi diam bertemu pandang dengan mata Mas Jamal, ia tahu maksud Mas Jamal menunggu jawaban darinya.

"Saya ikut menjadi saksi dari kehidupan 2 orang sahabat kita terutama yang mungkin terkait dengan hal yang diperttanyakan. Panut memang hidupnya bergelimang dosa, mabuk seakan sudah jadi ritual hariannya, main perempuan juga sering. Namun dia sangat menghormati Ulama, Kyai, Ustadz juga santri, singkatnya Panut menaruh hormat pada orang-orang yang menurutnya 'aliim"

Semua hadhirin manggut-manggut, terutamaq Mas Jamal nampak begitu serius mendengarkan.

"Pernah suatu ketika Panut sedang mabuk, dia terlihat kesal, teriak-teriak menantang siapapun yang ada dijalanan. Kebetulan Kang Majid lewat, tanpa banyak cakap Panut yang setengah kalap ditarik tangannya ke pinggir jalan, mengetahui siapa yang memegang tangannya Panut segera menjatuhkan diri memegang kaki Kang Majid sambil meminta ampun. Tiba-tiba lenyap semua kegagahannya, ia berubah seperti anak kecil dihadapan bapaknya, padahal secara teori jika Panut mau Kang Majid yang badannya kerempeng  bisa dilempar tanpa perlawanan".

Itulah Panut lelaki sangar yang merasa tak berdaya dihadapan Santri, bukan karena ia kalah, tapi karena dia sangat menghormatinya. 

Kita semua tahu, bahwa salah satu berkah dari menghormati, mencintai orang 'alim adalah ndilalah keturunannya diparingi nurut-nurut, baik-baik.

Mas Jamal sepertinya sudah puas dengan jawaban Kang Yasir. Semua diam menunggu jawaban selanjutnya, namun yang ditunggu tak juga bersuara.

Para Hadhirin seperti dikomando dalam fikiran mereka selanjutnya membayangkan sosok Kang Kibin yang anak-anaknya berbanding terbalik dengan Panut si Sangar. Kang Kibin memang terlihat Sholih, namun sudah menjadi rahasia umum, dia sangat membenci orang-orang 'aliim lainnya. Dimatanya Orang aliim lainnya yang terlihat kekurangannya, komentar miring, ucapan negatif sering terlontar sebagai respons dari segala yang dilakukan orag 'aliim lainnya.

Jadi tanpa diternagkan pun hadhirin sudah maklum.(zid/1017)

1 Komentar untuk "Nuansa Antara Anak Preman Dan Santri"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel